Sabtu, 18 Februari 2012

Keenam

Ternyata sama saja. Selalu mudah untuk mengucapkan, seperti mudahnya mencari sejuta alasan.

Minggu, 05 Februari 2012

Kelima

Ternyata aku punya tempat untuk menulis. Tempat yang terlupakan, tempat yang terabaikan. Entah tuntunan dari mana sehingga malam ini aku kembali singgah dan menatap satu demi satu huruf yang terangkai menjadi setumpuk katakata.

Malam ini aku merasa kembali berada dipersimpangan. Kemana langkahlangkah kehidupan ini akan diarahlan. Aku tidak sekuat yang aku kira tapi tidak juga selemah yang mereka kata. Mungkin aku adalah harimau yang terluka tetapi mungkin juga hanya seekor kelinci yang lagi terlena dalam haluniasi belaian dunia.

Hendak dilangkah kemana kaki ini? Pertanyaan yang tak henti mengisi rongga telinga, mungkin karena satu langkah pertama akan membentuk masa depan atau terjerumus di jurang yang entah dimana. Hidupmu adalah pilihanmu. Jangan salahkan siapasiapa jika ianya tak dapat memenuhi hasrat yang membuncah didada.

Tariklah nafas sedalam mungkin dan tataplah duniamu!

Senin, 16 Februari 2009

Keempat

Memandang dunia dengan dua warna tanpa disadari selalu kita lakoni. Apatah lagi ketika berhadapan dengan orang lain. Ketika dengan berapiapi nilainilai moral yang dianut diumbar, ketika itu pula kita mulai melukis garis pemisah antara aku dan lainnya. Aku adalah yang benar dan lain adalah yang salah. Padahal antara benar dan salah terbentang wilayah abuabu yang penuh dengan sedikit salah atau sedikit benar, hampir benar atau hampir salah, serta bejibun kondisi lainnya. Padahal diwilayah abuabu itu ada benar yang lain dan itu tidak satu.

Menghargai pendapat lain walaupun bertentangan dengan nilai yang kita anut adalah sikap langka yang susah ditemukan hari ini. Menghargai tidaklah berarti membenarkan, namun jika merasa diri sendiri saja yang benar juga bukan sikap yang dapat dibenarkan.

Berbagi dalam menilai sesuatu, memberikan ruang kepada yang lain untuk menilai berdasarkan kaedah yang yang dianut menciptakan kebersamaan dalam keberbedaan. Mengambil aras jalan tengah, dengan tidak memaksakan sebuah pendapat namun teguh dengan nilainilai yang dipegang membuat kita akan disegani baik kawan ataupun lawan.

Sesungguhnya kebenaran hakiki itu hanya milik Allah SWT.

Senin, 13 Oktober 2008

Ketiga

Rasanya sudah cukup lama aku meninggalkan laman blog ini. Tak sempat kuhitung putaran jarum masa ketika laman ini terabaikan. Cukup banyak peristiwa terbenam bersama berlalunya sang waktu. Berkubur di pusara tanpa nisan, hilang dihirup pikuk kerenah dunia.

Entah mengapa malam ini sekelebat melintas ingatan tentang laman ini, dan jemari mulai menari dan terus menari di keyboard, melukiskan apa yang terbersit dibenak. Satu satu huruf terangkai menjadi kata, kata berhimpun menjadi kalimat.

Selalu rintangan utama adalah ketidakmampuan melukis dengan kata, walau ada setumpuk wacana melayang di celah celah dalam rongga minda. Mungkin patut disadari bahwa aku memang bukan ditakdirkan untuk menjadi pelukis kata kata. Lalu apa yang mesti kupaparkan malam ini.

Atau, anggap saja ini adalah sebuah tanda bahwa blog ini masih ada. Bahwa mungkin esok hari atau entah bila, akan ada luahan kata kata yang lain. Seperti seekor kucing yang menandai daerah kekuasaannya dengan mengencingi daerah tersebut. Anggap saja tulisan ini adalah bentuk lain dari kencing kucing tersebut.

Tabik!

Minggu, 27 Juli 2008

Kedua

Aku tak tahu mau menulis apa malam ini. Midnight Sun dari Tito Puente masih mengalun lembut dari speaker notebook dan berganti dengan Sophisticated Lady dari Art Tatum, setelah itu entah lagi. Semuanya tak mampu memancing inspirasi. Menuntun kata-kata melukiskan isi hati.

Semalam juga sama, seperti malam malam yang lalu lalu. Mungkin juga dengan malam malam yang akan datang.

Ketika masa lalu telah menjadi sejarah, hari ini juga akan segera berlalu. Bagaimana dengan masa depan?

Rabu, 23 Juli 2008

Pertama

Banyak hal yang hendak diperbuat didunia bayang-bayang ini. Mungkin yang pertama adalah kehendak untuk mencurahkan isi hati. Mengungkapkan hasrat hasrat yang tersimpan di ceruk paling dalam sanubari ini. Mencurahkan nafsu liar untuk menulis. Dan mungkin yang terakhir sebagai bejana untuk mengumbar setumpuk gagasan.

Namun untuk memulainya amatlah sulit. Tunak tegun menyiakan waktu, menanti sekelebat gagasan melintas di minda. Kadang kalaupun ianya lewat, sepatah katapun tak mampu dicari digores untuk melukisnya.

Padahal hidup ini adalah sekumpulan cerita, sumber inspirasi yang tak ada habisnya.